MAMUJU, POROSSULBAR – Gerakan pemuda Ansor (PAC) Kecamatan Mamuju memperingati Haul Gus Dur yang ke 8, Sabtu 30 Des 2017. Di warkop moga jl. Abd. Syakur, Kelurahan Karema Kec. Mamuju Kabupaten Mamuju Sulawesi barat.

Kegiatan tersebut dihadiri para pemuka agama yang ada di Mamuju yakni tokoh agama Islam, Nambru Asdar, tokoh agama Hindu, Made Artayasa, Tokoh agama Budha, Imming Wijaya, tokoh Agama Nasrani, Pendeta Markus Tosa.

Ketua PAC Ansor Kec. Mamuju, Muslim Fatillah Azis mengatakan meski KH. Abd Rahman Wahid yang diyakini telah di surga tapi pemikiran pemikiran yang brilian, religius yang penuh humanis masih abadi hingga saat ini, sehingga pertemuan ini untuk merefleksikan kembali pemikiran pemikiran KH. Abd Rahman Wahid yang disebut Gusdur.

“Tepat pada tanggal 30 Des 2009 telah wafat sang maha guru bangsa, sang pembebas keadilan, sang bapak kemanusiaan yang anti diskriminasi, Alm. Gus Dur telah dipanggil oleh Allah SWT, “ungkap Muslim.

Lanjut Muslim, Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang hingga saat ini dan masa masa yang akan datang masih relevan untuk terus diteladani dan diperaktekan. Gus Dur merupakan pemersatu bangsa tanpa membedakan agama, ras dan suku bangsa.

“Seperti diketahui bahwa bangsa kita telah dirongrong oleh sekelompok organ organ yang mengatasnamakan kebenaran, menurut mereka dengan menumbangkan kebinnnekaan, keberagaman kita sebagai bangsa yang majemuk. 

“Padahal Ir. Sukarno telah merumuskan kemerdekaan bersama-sama dengan para Ulama, Pendeta, Pastor dan para tokoh tokoh agama yang merumuskan sebuah idiologi yang menjadi landasan kita berorganisasi yakni Pancasila, “tutur Muslim.

Ketua GP Ansor Cab Mamuju Muhammad Zahril mengatakan tujuan kegiatan Haul Gus Dur bukan untuk memuja Gus Dur, tapi mengenang dan mengingat dari sosok Gus Dur yang telah banyak berbuat untuk bangsa ini.

“Yang paling penting kita ketahui adalah Gus Dur merupakan pejuang kemanusiaan. Hampir separuh masa hidupnya hanya untuk mengabdi kepada manusia dan negara. Itu tercermin dari ketauhidan acaranya Islam Ahli Sunna Wal jamaah bahwa manusia adalah cerminan dari Allah SWT, “ucap Zahril.

Sementara tokoh Agama Budha, Imming Wijaya mengaku bahwa Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang sangat berjasa terhadap Agama Budha yang ada di Indonesia.

“Pada saat itu ada Kepres yang melarang perayaan Imlek di Indonesia, tapi Gus Dur pada saat itu membatalkan Kepres tersebut dan menerbitkan Kepres baru bahwa Imlek diakui sebagai hari raya Nasional, “tutup Imming. (*/Asr)