MAMUJU, POROSSULBAR – Banjir Bandang yang melanda dua Kecamatan, Mamuju dan Simboro di Kab Mamuju Sulawesi Barat, beberapa waktu lalu murni karena Bencana Alam, hal tersebut dijelaskan oleh Arham, ST, MT selaku PPK kawasan pantai dan Sungai Balai Wilayah Sungai Sulawesi III saat di konfirmasi diruang kerjanya, Kamis (29/3/18).

Menurutnya, bahwa banjir yang terjadi di Mamuju itu, di atas 20 tahun sekali menurut Review Desain Perencanaan, dan ada beberapa tahapan yang dapat mengakibatkan banjir sesuai debit air rata ratanya.

“Banjir yang terjadi di dua Kecamatan wilayah Kab Mamuju ini, itu murni Bencana Alam, sebab dari sisi Desain Perencanaan, bahwa banjir melewati tanggul yang ada di sungai, karena sesuai estimasi debit rata-rata pertahun, dan ada beberapa tahapan yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir, seperti lima tahun sekali, ada sepulu tahun sekali, ada lima belas tahun sekali, dan dua puluh tahun sekali, dan yang terjadi di Mamuju baru-baru ini itu di atas dua puluh tahun sekali sehingga melewati perencanaan, dan ini di kategorikan bencana Alam, “terang Arham.

Lebih lanjut, untuk mengantisipasi terjadinya banjir, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan agar banjir dapat teratasi, namun membutuhkan anggaran yang cukup besar.

“Untuk mengatasi terjadinya banjir, ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan, yaitu tanggul sungai harus lebih tinggi lagi dari yang sekarang sekitar 1,5 meter lagi ke atas, desainnya akan di review kembali, dan untuk proses tersebut membutuhkan waktu sebab ada tahapan yang harus di lalui, pertama review desain, setelah itu masuk desain, dan setelah desain baru pembangunan. Ini bukan normalisasi sungai, karena endapan lumpurnya tidak ada, dan kejadian ini murni terjadi karena bencana alam, “jelasnya. (*/Asr)

#Laporan : Enda.