Daniel : Pemerintah Perlu Menganalisis Potensi Abrasi di Pulau Bala-balakang

 

MAMUJU, POROSSULBAR – Terkait wacana pembangunan tanggul penahan ombak di Pulau Bala-balakang Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat yang rencana akan dilakukan desain oleh pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi III, hingga saat ini masyarakat masih khawatir akibat Abrasi yang terjadi pada Bulan Desember 2018 lalu.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang dari masyarakat Sulawesi Barat, yang juga menjabat sebagai Kepala Satker Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Wilayah Sungai Kalukku-Karema, Daniel, ST, MT  menjelaskan, bahwa pemerintah perlu menganalisis terkait potensi Abrasi yang terjadi di Pulau Bala-balakang, dimana sangat mengancam keselamatan warga.

“Menurutnya ini masalah serius, Abrasi di Pulau Bala-balakang harus di analisis oleh pemerintah baik Kabupaten maupun Provinsi dan semua pihak terkait, sebab jarak tempuh yang cukup jauh dari Kota Mamuju ke Bala-balakang, dan juga merupakan Pulau yang rentan terjadi bencana.

Dari analisis tersebut kemudian melahirkan solusi yang baik untuk saudara-saudara kita warga yang ada di Kepulauan Bala-balakang,” terang Daniel.

Ditambahkan lagi oleh pria asal Kabupaten Mamasa itu, sebaiknya pemerintah dalam hal ini Pemerintah Provinsi dan Kabupaten menyediakan lahan pemukiman bagi warga Bala-balakang untuk di relokasi layaknya transmigrasi lokal di wilayah Sulawesi Barat itu sendiri.

“Selaku putera daerah, saran saya, mungkin sebaiknya Pemerintah Provinsi dan Kabupaten harus jeli melihat ini dan tidak peka terhadap musibah yang dialami warga Pulau Bala-balakang, agar segera merelokasi warga disana apakah itu di Kabupaten Mamuju atau di Kabupaten lain yang masih dalam wilayah Sulbar, kasihan anak-anak di sana yang merupakan generasi penerus yang mau melanjutkan pendidikan tapi serba keterbatasan sarana,” tambahnya.

Dikatakan juga, bila pemerintah menggelontorkan anggaran buat membenahi pulau Bala-balakang, misalkan ada anggaran 500 Milyar untuk pembangunan tanggul misalnya, maka pihaknya bisa pastikan lebih efisien jika dicarikan lahan bagi warga disana untuk pemukiman keluar dari pulau Bala-balakang, pastinya anggaran yang digunakan tidak sampai segitu.

“Perlu diketahui bahwa sebesar apapun tanggul yang nantinya dianggap bisa melindungi warga Pulau Bala-balakang itu hanya sesaat, karena siapa yang bisa prediksi datangnya bencana,” tutup Daniel. (3Nda)