Diacara Komsos Dengan KB TNI/AD, Dandim 1418 Mamuju Paparkan Materi Wawasan Kebangsaan

 

MAMUJU, POROSSULBAR – Dandim 1418/ Mamuju, Letkol Inf Jamet Nijo, S.Sos pimpin Komunikasi Sosial (Komsos) dengan keluarga besar TNI, di Aula Makodim 1418, Jalan Yos Sudarso, Kel. Binanga, Kec. Mamuju, Kab. Mamuju yang dihadiri sekitar 100 orang, Kamis (14/3/2019).

“Adapun yang hadir diantaranya, Mayor Inf Andi Ismail, SE (Kasdim 1418/Mamuju), Mayor Caj I Ketut Wartama, S.Sos (Kaminvetcad 27 Mamuju), Ketua FKKPI Kab. Mamuju, Ibu-ibu Persit Kodim 1418/Mamuju dan Putra-putri FKPPI.

Dandim 1418/Mamuju, Letkol Inf Jamet Nijo, S.Sos mengatakan, bahwa Saya selaku Dandim 1418/Mamuju dan keluarga besar TNI/AD mengucapkan terima kasih atas kehadirannya dan semoga tetap terjaga hubungan yang kokoh, erat dan terjalinnya kerjasama yang positif antara Kodim 1418/Mamuju dengan keluarga besar TNI untuk mendukung kebijakan TNI AD serta menyamakan visi dan misi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta berpatisipasi dalam membangun NKRI yang kita cintai.

Lanjut dikatakan, melalui acara ini juga kami ingin memiliki kesamaan cara pandang utamanya dalam upaya mengelolah potensi yang dimiliki bangsa ini menjadi ruang, alat dan kondisi juang yang tangguh dalam rangka melanjutkan pembangunan bangsa demi tegaknya keutuhan NKRI.

Pada kesempatan ini saya mengajak seluruh keluarga besar TNI khusunya generasi muda yang tergabung dalam FKPPI untuk berperan aktif dalam mendukung kegiatan serbuan teritorial bersama-sama dengan segenap jajaran TNI,” ungkap Dandim.

“Saya mengingatkan kepada seluruh keluarga besar TNI untuk tidak terjerat dalam kasus Narkoba serta tidak terpancing pada isu-isu radikalisme,” harapnya.

Letkol Inf Jamet Nijo, S.Sos juga paparkan materi wawasan kebangsaan dihadapan peserta Komsos yang hadir, bahwa LVRI adalah pelaku sejarah langsung yang menjaga negara kesatuan Republik Indonesia dengan baik yang telah mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara ini.

“Wawasan kebangsaan bertujuan untuk mencapai tujuan nasional yang didasari dan dilandasi dengan Pancasila dan UUD 1945 yang tidak akan pernah berubah dan tidak ada yang bisa merongrongnya.

Wawasan kebangsaan secara historis dimulai pada tanggal 20 Mei 1908 yaitu adanya organisasi Budi Utomo kemudian ada deklarasi Sumpah Pemuda pada tahun 1928 kemudian diadakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

“Presiden pertama Republik Indonesia adalah Bung Karno yang menyatukan kerajaan- kerajaan yang ada dan mereka mau bersatu dibawah naungan NKRI bersama-sama menjaganya.

Dengan persatuan akan menjadikan negara ini menjadi besar dan kuat untuk menghadapi ancaman dari negara lain khususnya ancaman dari invasi Belanda, Amerika Serikat dan Jepang.

Negara kita ini di jajah oleh bangsa-bangsa yang ingin mengambil potensi alam kita.

Kesadaran dan tekad kita untuk selalu bersatu menjaga NKRI dalam rangka mewujudkan kemerdekaan NKRI ini tentang sumpah pemuda yang digelorakan oleh semua golongan organisasi pemuda saat itu bahwa kita Satu Bahasa, Satu Bangsa dan Satu Tanah Air.

Inilah yang mempersatukan kita untuk melawan semua rombongan dari luar ataupun akhir dari pada perjuangan semua pemuda dengan diproklamasikannya negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 diakui kemerdekaannya dan mengibarkan bendera merah putih langsung di bawah dari PBB.

“Ancaman nyata saat ini adalah ancaman nyata yang berupa proxy War yaitu ancaman dari negara-negara lain yang tidak menyatakan kekuatan bersenjatanya tetapi dengan cara melibatkan pihak ketiga yaitu narkoba, radikalisme dan teroris yang tidak lain untuk merebut Indonesia.

Melalui Narkoba, teroris dan radikalisme itulah cara yang digunakan negara luar untuk merusak generasi muda generasi muda, generasi tua untuk merebut negara kita.

“Saat ini sudah sering kita dengar bersama-sama tentang teroris masuk dengan membawa Aqidah Islam sedangkan Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu sudah diatur, tetapi ada unsur-unsur yang plesetin lagi berusaha untuk merusak negara ini dengan cara masuk di aqidah islam,” tutup Jamet Nijo. (**)