PASANGKAYU, POROSSULBAR – Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat di Sulawesi barat khususnya Kabupaten Pasangkayu , Kabupaten Mamuju Tengah dan Kabupaten Mamuju adalah kelapa sawit.

Tercatat kurang lebih 50 persen penduduk di tiga wilayah ini menggantungkan ekonomi keluarganya dari budi daya kelapa sawit, baik langsung maupun tidak langsung. Sebuah angka yang besar tentunya.

Kelapa sawit juga yang memberi dampak tidak langsung atas tumbuhnya sentra- sentra ekonomi baru di tiga wilayah tersebut. Beberapa perusahaan yang ada di wilayah ini telah mengembangkan system kemitraan, pendampingan ataupun plasma.

Tetapi sayang kondisi tersebut perlahan lahan mengalami pergeseran nilai , hubungan yang mulanya bersifat kemitraan , pendampingan ataupun plasma bergeser menjadi hubungan dagang yang sangat transaksional.

Tentu beberapa pihak mempertanyakan hal tersebut kenapa bisa terjadi ?

Disamping munculnya para pemodal /pengepul kelapa sawit yang semakin menjamur di tiga wilayah tersebut , juga mempertanyakan peran dari Dinas Perkebunan selaku pembina di daerah .

Sulit di harapkan ke petani untuk bisa memenangkan persaingan jika berhadapan dengan pemodal tanpa pendampingan . Secara systematis para pemodal /pengepul akan “menguasai” petani dengan kekuatan modalnya.

Beberapa petani yang menyadari akan bersikap lebih hati- hati dan realistis dalam mengelola perekonomian keluarganya , tetapi juga tidak sedikit yang terjebak dengan gaya hidup dan jebakan kebendaan lainya sampai menggadaikan kebunnya , padahal kebun bisa jadi menjadi satu satunya sumber ekonomi keluarga Pengembangan Badan Usaha Desa

Berkaca dari pengalaman tersebut sudah selayaknya bagi para pihak untuk melakukan langkah-langkah kongkret untuk menyelamatkan petani dengan melakukan pendampingan dan menghidupkan badan badan usaha petani , apakah dalam bentuk koprasi , Badan Usaha Desa atau kelompok kelompok tani . Jangan sampai petani menjadi buruh dikebunnya sendiri.

Harus di sadari bersama juga ketika para petani sudah “ dikuasi “ pemodal maka yang terdampak selanjutnya adalah ekonomi desa/ daerah . Para pemodal akan lebih senang membelanjakan uangnya di kota dari pada menghidupkan ekonomi desa/daerah .

Belum lagi masalah infrstruktur desa/daerah siapa yang bertanggung jawab dan masalah sosial lainnya sebagai dampak dari kesenjangan. Dengan memberdayakan petani / kelompok tani tidak saja akan menghidupkan ekonomi desa/ daerah , tetapi juga akan menjadi stimulan untuk bertumbuhnya kantong- kantong ekonomi yang lain.

Oleh karena itu butuh kesadaran bersama untuk bersama sama membangun system tata niaga yang lebih adil dan lebih bermanfaat untuk semua.

Kondisi ini juga di rasakan oleh Sabir Samaruna selaku tokoh masyarakat di desa Ako Pasangkayu yang juga sebagai ketua kelompok Tani Tanjung Sejahtera di Desa Ako Pasangkayu binaan PT. Letawa.

Kami berharap baik dari Dinas Perkebunan Kabupaten Pasangkayu maupun dari pihak perusahaan selaku mitra dapat kembali melakukan pendampingan dan pembinaan , terlebih dalam management keuangan kelompok,” ujar Sabir Samaruna, di rumahnya yang asri di desa Ako Pasangkayu.

“Kasihan anak cucu kami kalau harus jadi buruh di kampung sendiri,” pungkasnya. Sebuah kekhawatiran yang wajar. (**)