Foto : Saat Pihak DPRD menerima Massa Aksi diruang rapat lantai dua dan diterima langsung oleh Sukri Umar

 

Sukri Umar Terima Massa Aksi, “Ahyar” Tuding DPRD Sulbar Dapil Majene Mangkir

MAMUJU, POROSSULBAR — Aliansi Mahasiswa Sulbar menggelar Aksi damai di gedung DPRD Provinsi Sulawesi Barat terkait infrastruktur Jalan di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene yang menelan anggaran 9 Milyar, Rabu (10/4/2019). 

Seratusan massa aksi menyeruduk kantor DPRD Sulbar, setelah bertolak dari kantor Gubernur untuk menyampaikan aspirasi masyarakat terkait infstruktur pembangunan jalan yang ada di Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Yang diduga pekerjaannya asal-asalan, sehingga salah seorang Ibu dan Anaknya yang masih balita meninggal dunia terjatuh dari kendaraannya akibat akses jalan yang sangat buruk.

“Ahyar dalam orasinya menganggap Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar otoriter

“Pihak DPRD menerima massa aksi di ruang rapat lantai dua dan diterima langsung oleh Sukri Umar dari dapil Mamuju partai Demokrat, yang seharusnya anggota DPRD dari Majene ikut dalam menerima aspirasi masyarakatnya.

Salah satu perwakilan Aliansi Pelajar Mahasiswa Sulbar, Ahyar sedikit mengkritisi dan menganggap bahwa kurang tepat sasaran, karena berharap ada anggota DPRD dari dapil Majene yang seharusnya duduk bersama dengan Sukri Umar dari dapil Mamuju untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat Ulumanda Majene.

Secara pribadi saya dari Mamuju menganggap ada kelalaian atas mangkirnya anggota DPRD Provinsi Sulbar, khususnya dari dapil Majene, saya pun menganggap mereka mandul dalam proses pengawasan,” tegas mantan orang nomor satu di IPMAPUS ini.

Lanjut dikatakan, Anggaran 9 Milyar yang dikucurkan sudah sedikit dan tidak efektif, kemudian proses pengerjaannya kurang pengawasan dari pihak DPRD sulbar,” ungkapnya.

Ditempat yang sama pihak dari DPRD Sulbar, Sukri Umar mengatakan, kami hanya bisa memastikan bahwa jalan Ulumanda itu memang menjadi kewenangan Provinsi dan memang 2018 itu sudah dianggarkan, hanya masalahnya setelah di pihak eksekutif barang itu putus kontrak dan sesuai konfirmasi yang kami dapatkan adalah bahwa kontraktornya abal-abal, kemudian uang yang sudah dikasikan itu bahasa di masyarakat itu mati didalam,” ucap Sukri. (**)