Waduh..!! Oknum ASN Diknas Sulbar Diduga Melakukan Modus Penipuan

 

MAMUJU, POROSSULBAR – Sungguh memalukan, oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov Sulbar diduga melakukan penipuan kepada tiga orang korbannya dengan modus dijanjikan pekerjaan menjadi tenaga kontrak dibeberapa SMK yang ada di Kab Mamuju, dengan meminta sejumlah uang sebagai imbalan.

Dari informasi yang dihimpun media ini, diketahui oknum ASN tersebut berinisial “NH” pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulbar, Bidang Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK).

“Salah seorang staf di SMA Negeri 1 Tapalang “EI” saat ditemui disalah satu rumah makan yang ada di Mamuju beberapa waktu lalu menuturkan bahwa, dirinya mengusulkan tiga orang untuk dijadikan tenaga kontrak.

Ya, benar saya mengusulkan tiga orang yang bernama Kapriandi, Darwis dan M Akif. Masing-masing menyetor uang, Kapriandi Rp 5 juta, Darwis Rp 4 juta dan M Akif Rp 5 juta. Uang itu saya serahkan kepada NH, selanjutnya untuk ketiga orang tersebut akan dibuatkan SK tenaga kontrak,” tuturnya.

“Uang tersebut dia setor ke NH, masing-masing Rp 3.500.000 perorang. Dan sisanya diperuntukkan untuk biaya-biaya foto copy dan berkas-berkas lainnya.

Sementara itu, Kapriandi, Darwis dan M Akif mengatakan, sejak EI mengambil uang darinya melalui Tiar (omnya Darwis dan Kapriandi) setahun lalu, hingga saat ini belum ada kabar soal SK tersebut. Bahkam dia mengaku di antar langsung ke rumah EI untuk menyerahkan uang itu kepada EI.

“Kami dijanjikan staf tenaga kontrak di sekolah-sekolah SMK dan SMA yang ada di Mamuju, namun sampai sekarang kami belum pernah menerima SK kontrak yang dijanjikan EI,” tutur Kapriandi dan Darwis.

Saat di konfirmasi soal dugaan penipuan yang dialamatkan pada dirinya, NH membantah jika dirinya pernah menerima uang dari EI sebagaimana yang ditudingkan EI kepada dirinya.

“Itu tidak benar, apa yang di katakan EI kalau saya pernah menerima uang sebanyak itu dari EI,” ungkap NA saat di temui diruang kerjanya.

Dia tegaskan, kalau ada uang yang dipungut oleh EI, itu diluar sepengetahuan dirinya, karena dirinya tidak pernah meminta uang dari siapapun. Dia cuma ingin membantu dan bisa buktikan karena ada semua catatannya.

“Memang EI pernah memberi uang kepada saya, tapi nominalnya tidak sebanyak apa yang EI katakan, bahwa saya pernah terima uang dari dia sebanyak Rp 3.500.000 perorang dari ketiga orang yang dia usulkan,” pungkasnya. (**)