Porossulbar – Mamuju – Isu menu kering dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di Kabupaten Mamuju. Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Mamuju, Awaluddin S., S.E., angkat bicara dan memaparkan secara terbuka struktur anggaran serta mekanisme pelaksanaan program sesuai petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Awaluddin menjelaskan, persepsi yang berkembang di masyarakat kerap menganggap anggaran Rp13.000–Rp15.000 per porsi sepenuhnya digunakan untuk bahan makanan. Padahal, dalam struktur pembiayaan MBG, anggaran tersebut terbagi dalam beberapa komponen yang telah diatur secara resmi.
“Anggaran bahan pangan dibagi berdasarkan kategori penerima manfaat. Untuk porsi kecil dialokasikan Rp8.000, sedangkan porsi besar Rp10.000. Menu yang diberikan sama, namun gramasi berbeda sesuai kebutuhan usia,” tegas Awaluddin S.
Ia merinci, tambahan Rp5.000 per porsi terbagi menjadi dua komponen utama. Sebesar Rp3.000 dialokasikan untuk operasional SPPG, meliputi gaji relawan, pembayaran BPJS Ketenagakerjaan, kebutuhan listrik, air, gas, wifi, alat tulis kantor, hingga dukungan teknis lainnya. Sementara Rp2.000 diberikan sebagai insentif bagi mitra penyedia fasilitas SPPG, termasuk tanggung jawab perawatan gedung dan peralatan dapur.
Menurutnya, seluruh komponen tersebut merupakan satu kesatuan sistem layanan, sehingga tidak dapat dipisahkan hanya pada belanja bahan pangan semata.
Standar Gramasi dan Pengawasan Ahli Gizi
Menjawab kekhawatiran publik terhadap kecukupan nutrisi, Awaluddin S. memastikan setiap menu harian disusun dan diawasi langsung oleh ahli gizi di masing-masing SPPG. Setiap porsi ditimbang berdasarkan gramasi yang telah dihitung untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, lemak, dan karbohidrat dalam satu kali makan.
“Setiap hari menu ditimbang sesuai standar gramasi. Tidak ada yang diberikan secara perkiraan. Semua melalui perhitungan ahli gizi agar kebutuhan gizi terpenuhi sesuai kelas porsi,” jelasnya.
Ia menegaskan, meskipun terjadi penyesuaian teknis selama Ramadan, prinsip gizi seimbang tetap menjadi acuan utama. Menu mungkin berbeda dalam bentuk penyajian, namun nilai gizinya tetap dihitung dan disesuaikan.
Penegasan Kepatuhan SOP
Sebagai Korwil, Awaluddin S juga menekankan kepada
seluruh Kepala SPPG se-Kabupaten Mamuju agar tetap mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan BGN. Kepatuhan tersebut mencakup aspek keamanan pangan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) oleh relawan, hingga tahapan penerimaan bahan baku, persiapan, pengolahan, dan distribusi kepada penerima manfaat.
“Kami ingatkan seluruh Kepala SPPG untuk disiplin terhadap SOP. Mulai dari penerimaan bahan baku persiapan, pengolahan dan distribusi hingga makanan sampai ke siswa harus sesuai standar keamanan pangan,” tegasnya.
Awaluddin S. berharap masyarakat dapat memahami struktur dan mekanisme MBG secara utuh sebelum menarik kesimpulan. Ia juga membuka ruang bagi kritik dan evaluasi yang konstruktif demi penyempurnaan layanan ke depan.
“Program ini hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan bergizi. Mari kita kawal bersama dengan data dan pemahaman yang benar,” pungkasnya.

Comment