MAMUJU, POROSSULBAR – Amran HB angkat bicara terkait narasumber berita media online yang dianggap terpengaruh issue ‘rasis’ warga pendatang yang dinarasikan Habsi Wahid pada saat Debat Publik Pilkada Mamuju oleh KPU beberapa hari yang lalu.

Amran yang juga seorang pendatang di Kabupaten Mamuju yang berdarah bugis Sidrap-Soppeng, Sulawesi Selatan ini mengatakan, bahwa issue warga pendatang penyebab kemiskinan yang digoreng untuk kepentingan politik sangat tidak baik, karena bisa memecah belah masyarakat dan terkesan provokasi.

“Ada narasumber di salah satu media online yang terhimpun di sebuah kerukunan untuk warga Sulawesi Selatan, yang sepertinya terhasut oleh penggalan kata dari hasil Debat KPU beberapa hari lalu,” ujar Amran, kepada laman media ini, Selasa (3/11/2020).

Disitu dikatakan pendatang baru, dan kandidat saat itu menjelaskan hasil data dari Badan Pusat Statistik dan bukan argumen pribadi.

“Jadi saudara saya yang berkomentar itu keliru dalam menanggapinya,” lanjutnya.

Amran HB yang masuk sebagai salah satu Jurkam paslon nomor urut 2, Habsi-Irwan ini juga menambahkan, bahwa kepemimpinan Habsi-Irwan selama periodenya memimpin Mamuju, bahkan pernah mendapatkan penghargaan dari Kapolri melalui Kapolda Sulbar sebagai Kepala daerah yang dapat menciptakan keamanan dan ketertiban, serta telah mengayomi seluruh warganya yang mempunyai beragam etnis suku, ras, agama dan golongan tanpa membeda-bedakannya.

Pendatang dan pribumi jangan mau dibentur-benturkan dengan issue ‘Rasis’ karena sebetulnya tidak seperti itu analisa bahasanya.

“Jadi saudara saya yang berasal dari Sulsel, seperti saya juga sebagai pendatang, maka arif, bijak dan cermat lah menanggapi dan menelaah narasi atau sebuah issue yang memukul rata para pendatang,” pesan Amran.

Berbicara soal kemiskinan lanjut Amran, itu terjadi diberbagai daerah bahkan Pemerintah sekelas di Ibukota Negara seperti Jakarta saja. Juga masih bergelut dengan cara menekan angka kemiskinan yang bahkan mencapai 11 persen sesuai data statistik.

“Mamuju sekarang bukan Mamuju 10 Tahun lalu. Mamuju sekarang adalah kawasan ekonomi baru dan banyak peluang bisnis yang menggiurkan bagi para pendatang baru untuk meniti nasib dan keberuntungan,” kata Amran.

Jadi ada memang beberapa pendatang baru yang masih belum punya pekerjaan dan tempat tinggal tetap di Mamuju, dan itu dikategorikan oleh BPS sebagai penduduk miskin.

“Saya kira, setelah beberapa tahum kedepan para pendatang ini akan mandiri melihat banyaknya peluang meningkatkan ekonomi di Mamuju, dan kelak tidak akan terdata lagi sebagai penduduk miskin,” sambungnya.

Amran HB berharap, Issue yang memecah belah masyarakat di Mamuju agar tidak dijadikan bahan politik untuk kepentingan kekuasaan lagi.

“Poin pentingnya, Pak Habsi selama ini tidak pernah membenturkan warga pendatang dan pribumi asli Mamuju.

Semua informasi harus di tabayyuni (memvalidasi sebuah berita atau informasi yang datang, sebelum menyimpulkan.)

“Jangan semua berita yang sifatnya masih samar-samar ditelan mentah-mentah, apalagi kalimat atau narasi bahkan video itu sebenarnya terpenggal dan sudah di edit,” harap Amran. (rls//**)