News
Home » Berita » DKP Sulbar Ikuti Rakortekrenbang 2026, Sinkronkan Arah Pembangunan Kelautan dan Perikanan Daerah dengan Kebijakan Nasional

DKP Sulbar Ikuti Rakortekrenbang 2026, Sinkronkan Arah Pembangunan Kelautan dan Perikanan Daerah dengan Kebijakan Nasional

 

Mamuju – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat mengikuti Zoom Meeting Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan (Rakortekrenbang) Nasional Tahun 2026, pada Jumat (27/2/2026) pukul 14.03 WITA hingga selesai, bertempat di Aula DKP Sulbar. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan arah pembangunan kelautan dan perikanan daerah dengan kebijakan nasional.

 

Pelaksanaan Rakortekrenbang ini juga sejalan dengan visi pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, bersama Sekretaris Provinsi Sulbar, Junda Maulana, melalui misi PANCADAYA, khususnya pada poin kelima yakni “Memperkuat tata kelola pemerintahan yang baik dan akuntabel serta mewujudkan pelayanan dasar dan berkualitas”. Forum ini menjadi bagian penting dalam memastikan perencanaan pembangunan sektor kelautan dan perikanan berjalan transparan, terukur, serta berbasis data dan kebutuhan riil masyarakat.

 

Perkuat Fondasi Perkebunan Sulbar, Pemerintah Percepat Penetapan Kebun Sumber Benih Kakao

Rapat dilaksanakan berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 000.8.3/1628/Bangda tanggal 20 Februari 2026 tentang Pemberitahuan Pelaksanaan Rakortekrenbang Tahun 2026. Forum ini menghadirkan pemateri dari perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Prita Aulia Novita, serta perwakilan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia, Septiyan.

 

Kepala DKP Provinsi Sulawesi Barat, Safaruddin, S.DM memimpin langsung jajaran Kepala Bidang dan Kepala UPTD dalam mengikuti rapat tersebut, dengan pendampingan dari Bapperida Sulbar, Fahrul.

 

Sinkronisasi Target Nasional dan Daerah

Menuju Opini Terbaik, BPKAD Serahkan LKPD Sulbar 2025 ke Inspektorat : Masuk Tahap Reviu APIP

Dalam paparannya, perwakilan Bappenas menyampaikan bahwa target nasional produksi perikanan budidaya mencapai 2.410.000 juta ton. Target ambisius ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi daerah, termasuk Sulawesi Barat, untuk meningkatkan kontribusi sektor budidaya secara terukur dan berkelanjutan.

 

Pada Desk Urusan Kelautan dan Perikanan, pemerintah daerah diminta menyiapkan data komprehensif meliputi:

Capaian Tahun 2025 beserta anggaran

Target Tahun 2026 beserta anggaran

Dorong Percepatan Realisasi Penerbangan Jakarta–Mamuju, Pemprov Sulbar Gandeng HIPMI Audiensi ke Kemenhub RI

Target Tahun 2027 sesuai Renstra beserta anggaran

Indikator yang dibahas mencakup:

Produksi Perikanan Budidaya

Penyediaan sarana pembudidayaan ikan air payau dan air tawar lintas kabupaten/kota

Penyediaan prasarana pembudidayaan ikan air payau dan air tawar lintas kabupaten/kota

Kepatuhan Pelaku Usaha

Operasi kapal pengawas kelautan dan perikanan

Pengawasan usaha penangkapan dan pengangkutan ikan hingga 12 mil sesuai kewenangan provinsi

 

Fokus Budidaya: Rumput Laut dan Bibit Nila Jadi Prioritas

Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Roswati Panasa, menyampaikan bahwa DKP Sulbar akan memfokuskan pengembangan pada komoditas rumput laut sebagai penggerak utama peningkatan produksi budidaya. Komoditas ini dinilai memiliki potensi ekspor dan nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir.

 

Selain itu, tingginya permintaan bibit ikan nila oleh Unit Perbenihan Rakyat (UPR) menjadi perhatian serius. Ketersediaan benih unggul dan berkelanjutan dipandang sebagai kunci dalam menjaga stabilitas produksi air tawar di Sulawesi Barat.

 

Namun demikian, tantangan cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi aktivitas budidaya. DKP Sulbar menegaskan pentingnya dukungan sarana dan prasarana adaptif terhadap perubahan iklim agar produksi tetap terjaga.

 

Pengawasan Laut: Tantangan Luas Wilayah dan Keterbatasan Armada

Kepala Bidang PSDKP, Zaehu M, memaparkan bahwa DKP Sulbar saat ini memiliki dua unit kapal patroli, namun dalam kondisi kurang optimal. Dengan luasnya wilayah perairan Sulawesi Barat, keterbatasan armada menjadi kendala dalam memaksimalkan pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan.

Selain itu, masih ditemukannya praktik penggunaan formalin oleh oknum tidak bertanggung jawab menjadi perhatian utama. Pengawasan ketat diperlukan agar hasil tangkapan nelayan sampai ke konsumen dalam kondisi sehat dan aman.

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *