MAMUJU, POROSSULBAR – Percasi Sulbar merupakan salah satu cabor yang meloloskan atletnya di PON XX Papua. Perhelatan olahraga empat tahunan ini akan digelar oktober mendatang, dan tinggal menyisakan persiapan beberapa bulan kedepan.

Namun miris, cabor catur yang merupakan olahraga prestasi andalan Sulbar, yang di gadang-gadang mampu mempersembahkan kembali medali di PON Papua nanti, justru kurang mendapat perhatian serius dari Pemprov serta KONI Sulbar itu sendiri.

Yang mana pada gelaran PON XIX di Bandung 2016 kemarin, catur merupakan satu-satunya cabor yang mengharumkan nama Sulbar, karena mampu mempersembahkan satu-satunya medali untuk Sulbar, yaitu medali perunggu dari nomor lomba catur cepat perorangan putra. Walau saat itu Sulbar masih jauh dari ekspektasi, berada di posisi paling buncit, urutan 34 dari 34 provinsi klasemen perolehan medali.

Kali ini peluang itu kembali terbuka lebar, bahkan bisa lebih baik dari prestasi kemarin. Itu setelah atlet catur andalan Sulbar Muh. Johan kembali meloloskan Sulbar di PON XX 2021, setelah menyisihkan provinsi lainnya di Pra PON Region Sulawesi di Manado lalu.

Namun kali ini tidak di dukung dengan persiapan yang matang, hal itu diungkapkan Muh Johan, saat dikonfirmasi laman ini via telepon, Minggu (16/5/2021).

Dikatakan bahwa dia menyesalkan kali ini sangat minim persiapan menghadapi PON nanti. Karena tidak dibekali adanya sarana pendukung yang memadai, diantaranya catur dan jam catur DGT, try out dan pelatih yang sepadan sebagai sekondan untuk sharing ilmu catur.

“Kita tertinggal jauh dari daerah lain, kalah persiapan dengan atlet catur provinsi lainnya. Klo kemarin, jelang PON saya sampai tiga kali ikut try out, kali ini sekalipun tidak pernah,” ungkapnya.

Lanjut Johan, tim catur Sulbar sudah terbentuk setahun yang lalu terdiri dari manager, pelatih, dan atlet. Dan sudah setahun ini terima insentif/honor dari KONI, namun tidak efektif dan kinerjanya tidak ada.

“Yang saya sesalkan pelatih ada, namun tidak pernah terbangun komunikasi yang baik dengan atlet begitupun manager, padahal sudah terima honor. Sebetulnya pelatih ini nanti cuma jalan-jalan aja, tidak ada fungsinya,” ujar Johan.

Nurhadi salah satu pengurus percasi sulbar mengaku prihatin dengan kondisi ini. Selaku tokoh catur yang sudah malang melintang di percaturan sulbar, ia katakan ini akibat kurangnya keterbukaan dan tidak adanya transpansi di internal pengurus.

Bahkan pembentukan tim catur PON kemarin terkesan tergesa-gesa dan tidak prosedural, tidak sesuai dengan mekanisme yang ada karena disusun serta di SK kan sembunyi-sembunyi. Tidak melalui rapat kerja pengurus sehingga tidak melibatkan unsur pengurus yang ada.

“Melihat kondisi ini, saya usulkan perlu ada evaluasi tim, agar tim nanti bisa maksimal dan kinerjanya bisa lebih efektif juga tepat sasaran. Mewakili teman-teman pengurus lainnya mendesak, perlu secepatnya diagendakan rapat pengurus,” pungkas Nurhadi. (Asr/**)