MAMUJU, POROSSULBAR – Tim koalisi kerakyatan Habsi-Irwan, Amran HB menepis isu pemberitaan pesan adat dan agama saat menyampaikan orasi kampanye terbatas di lingkungan Pure, kelurahan Sinyonyoi, kecamatan Kalukku, yang di muat di salah satu media Online, beberapa hari lalu.

Amran HB mempertegas dari pernyataan tersebut adalah soal Peraturan Bupati (Perbub) yang dicabut oleh Habsi Wahid (Bupati.red) yang saat itu dianggap merugikan petani.

Konteks ini kata Amran, dimana Perbup tersebut berbicara soal penetapan harga gabah, monopoli pedagang dan larangan penjualan gabah diluar daerah, sehingga tidak ada persaingan harga ditingkat petani.

Atas dasar inilah, sehingga Amran mengatakan ditujukan khusus keluarga Amran di Pure yang mayoritas petani.

“Di Pure ini keluarga besar saya, disana 99 persen adalah petani, buktinya Habsi ini tidak mementingkan ego pribadinya sebagai Bupati, dan lebih mementingkan masyarakatnya, dengan mencabut Perbup tersebut,” ungkap Amran, kepada sejumlah wartawan di sekretariat IJS Sulbar, Minggu (18/10/20).

“Setelah Perbup tersebut dicabut, petani bisa bernafas lega, sehingga saya katakan berdosa kita jika orang baik seperti ini (Habsi-Irwan.red), kita tidak pilih,” lanjutnya.

Amran menjelaskan, konteks kedua dari sudut pandang agama. Habsi-Irwan layak dipilih kembali, maka secara kekeluargaan kata dia, hal itu sewajarnya menjadi pilihan.

“Dan mudah-mudahan masyarakat yang mendengarkan ini bisa memaknai dari sudut pandang sosial, agama, dan filosofis,” sebutnya.

Dirinya menuturkan, bahwa secara pribadi agar statemennya yang diungkapkan dan yang membaca tidak latah terhadap urusan politik.

“Tujuan saya sederhana, masyarakat yang memahami narasi yang saya sampaikan tiap kampanye bisa dimengerti, apa yang saya maksudkan tentang pesan adat, dan agama,” jelasnya. (adr//edt.Asr).