POROSSULBAR, POLMAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menjadi ruang penguatan kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal itu tercermin dalam aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polewali Mandar Tapango yang berlokasi di Desa Banatorejo, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar.
SPPG Tapango Banatorejo berada di bawah naungan Yayasan Masa Depan Bangsa Sulbar dan dipimpin oleh Solikah, S.P sebagai Kepala SPPG, dengan alamat operasional di Jl. Poros Tapango–Matangga, Desa Banatorejo. Melalui dapur layanan ini, ribuan porsi makanan bergizi disiapkan setiap hari bagi para penerima manfaat.
Menjawab pertanyaan publik terkait siapa yang bekerja di dapur—mulai dari memasak, mencuci, hingga pengemasan—pihak SPPG menegaskan bahwa tenaga operasional bukan pegawai Badan Gizi Nasional (BGN). Seluruh aktivitas dijalankan oleh relawan lokal dengan sistem piket dan pembagian tugas.
Para relawan tersebut mulai bekerja sejak pukul 01.00 WITA hingga sekitar pukul 17.00 WITA, menyesuaikan dengan jadwal piket dan tanggung jawab masing-masing. Pola kerja ini memastikan seluruh proses, dari pengolahan hingga distribusi, berjalan tepat waktu dan sesuai standar.
Selain dampak gizi, SPPG Tapango Banatorejo juga menghadirkan manfaat ekonomi langsung. Dari total 47 relawan yang terlibat, tujuh orang berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah, yang kini memiliki ruang kerja produktif melalui program MBG.
Di balik angka-angka tersebut, tersimpan kisah kemanusiaan yang kuat. Salah satu relawan perempuan harus bekerja sambil mengasuh anaknya yang memiliki keterbatasan fisik. Sebelumnya, anak tersebut dijaga oleh satu-satunya anggota keluarga yang masih bisa membantu. Namun setelah musibah meninggal dunia, ia tidak lagi memiliki tempat menitipkan anaknya saat bekerja.
Dalam kondisi tersebut, Kepala SPPG Solikah, S.P mengambil langkah solutif dengan menyediakan ruang khusus bagi anak relawan tersebut di area dapur. Kebijakan ini memungkinkan sang ibu tetap bekerja tanpa harus meninggalkan anaknya, sekaligus menjaga keberlanjutan tugas pelayanan.
Langkah tersebut menegaskan bahwa pelaksanaan Program MBG di SPPG Tapango Banatorejo tidak semata berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga menjunjung nilai kepedulian sosial, inklusivitas, dan keberpihakan kepada kelompok rentan. Di sisi lain, kebutuhan bahan pangan dapur turut menggerakkan sektor pertanian dan usaha lokal, sehingga manfaat program dirasakan secara berlapis oleh masyarakat.
Melalui keterlibatan relawan, pengelolaan yang disiplin, serta kepekaan terhadap persoalan sosial, SPPG Tapango Banatorejo menunjukkan bahwa gizi dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan dalam satu program pelayanan publik.