News
Home » Berita » Permen Pencegah Kanker: Manis di Mulut, Bekerja Hingga Usus

Permen Pencegah Kanker: Manis di Mulut, Bekerja Hingga Usus

Jakarta – Bagi banyak orang tua, permen sering kali menjadi camilan yang harus dibatasi karena dianggap dapat merusak kesehatan gigi anak. Namun, sebuah inovasi karya peneliti Indonesia justru membalikkan anggapan tersebut dengan menghadirkan permen yang tidak hanya manis, tetapi juga menyehatkan.

Di balik bentuknya yang sederhana, permen ini menyimpan jutaan bakteri baik yang dirancang untuk bekerja sejak berada di rongga mulut hingga mencapai saluran pencernaan. Melalui pemanfaatan bioteknologi, permen tersebut berpotensi membantu menjaga kesehatan mulut sekaligus menekan risiko kanker kolon.

Inovasi ini dikembangkan oleh Dr. Ema Damayanti yang selama bertahun-tahun meneliti pemanfaatan bakteri asam laktat bagi kesehatan manusia. Berangkat dari tantangan menjaga stabilitas probiotik dalam produk pangan, ia bersama timnya berhasil menciptakan permen sinbiotik yang mampu mempertahankan bakteri baik hingga saat dikonsumsi.

Menurut Ema, banyak produk probiotik kehilangan manfaatnya karena bakteri yang terkandung di dalamnya tidak mampu bertahan pada suhu ruang. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim peneliti mencari cara agar bakteri tetap hidup tanpa mengurangi efektivitasnya.

“Selama ini probiotik memiliki tantangan besar karena bakteri mudah mati sebelum dikonsumsi. Melalui teknologi freeze dry, bakteri dibuat dalam kondisi dorman sehingga tetap stabil selama penyimpanan dan dapat kembali aktif saat dikonsumsi,” ujar Ema.

Kemenkum Sulbar Lakukan Evaluasi Untuk Tingkatkan Kualitas Layanan Masyarakat

Teknologi freeze drying atau pengeringan beku memungkinkan bakteri berada dalam kondisi “mati suri” tanpa kehilangan kemampuannya. Saat permen dihisap atau dikunyah, lingkungan alami di dalam mulut akan memicu bakteri untuk kembali aktif.

Tidak hanya mengandalkan probiotik, permen ini juga dilengkapi dengan prebiotik berupa inulin yang berfungsi sebagai sumber nutrisi bagi bakteri. Dengan bekal tersebut, bakteri diharapkan dapat langsung bekerja begitu kembali hidup di dalam tubuh.

Aktivitas pertama bakteri berlangsung di rongga mulut, tempat mereka membantu menghambat pembentukan biofilm atau plak yang dihasilkan oleh bakteri patogen. Salah satu bakteri yang menjadi target adalah _Streptococcus mutans_ dan _Enterococcus faecalis_ yang selama ini dikenal sebagai bakteri pembentuk biofilm penyebab utama karies gigi pada anak.

“Konsep yang kami kembangkan adalah sistem hulu-hilir. Di rongga mulut, bakteri berperan sebagai antibiofilm, kemudian setelah tertelan akan melanjutkan aktivitasnya di saluran pencernaan dan memberikan manfaat kesehatan lainnya,” jelas Ema.

Perjalanan bakteri baik tersebut berlanjut hingga ke usus halus dan usus besar setelah permen tertelan. Di sana, bakteri asam laktat berkolonisasi di saluran cerna dan akan bekerja meningkatkan sistem imun tubuh dan diharapkan membantu mencegah perkembangan kanker kolon.

Kemenkum Sulbar Sebut “PASTI ADA SOLUSI” Solusi Untuk Layanan Masyarakat Lebih Baik

Temuan ini menjadi semakin relevan karena kasus kanker kolon terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Penyakit yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut kini mulai banyak dijumpai pada usia produktif akibat perubahan pola hidup dan pola makan.

Bagi Ema, inovasi kesehatan tidak harus selalu hadir dalam bentuk obat atau suplemen yang rumit. Produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari justru memiliki peluang lebih besar untuk diterima dan digunakan masyarakat.

“Kami ingin menghadirkan produk kesehatan yang mudah diterima semua kalangan, termasuk anak-anak. Edukasi hidup sehat dapat dilakukan melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” tuturnya.

Atas inovasi tersebut, Ema telah mengajukan perlindungan paten ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Permohonan paten dengan nomor S00202605018 tersebut berjudul berjudul _”Sediaan Probiotik Bakteri Asam Laktat dengan Aktivitas Antibiofilm dan Antikanker Kolon”_.

Dalam wawancara di Gedung DJKI, Jakarta pada Jumat, 26 Juni 2026, Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang DJKI, Andrieansjah, menilai inovasi tersebut menun

Kanwil Kemenkum Sulbar: Penguatan JDIH Harus Mampu Mendorong Literasi Hukum

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *